Perjuangan Seorang Da’i Di Pelosok Lombok

Salah satu contoh keteladanan bisa di ambil dari Perjuangan Seorang Da’i Di Pelosok Lombok Tengah. kisah seorang pengajar Al quran di daerah pelosok. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW  : “Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Para santri sedang belajar Al Quran

Rasulullah SAW selain memuji orang yang mau belajar Al-Qur’an juga memuliakan orang yang mau mengajarkannya. Namun bagaimana jika kita mendengar ada seorang guru ngaji yang menjadi pekerja kasar ? Mungkin hal tersebut sudah tidak mengagetkan,  namun tetap saja kita semua miris mendengarnya.  Terutama bagi seorang muslim yang paham akan  kemuliaan seorang guru. Umar bin Khattab pun memuliakan mereka dengan memberikan gaji yang besar kepada para guru di masa pemerintahannya,  yaitu sebesar 15 dinar per bulannya.

Fakta di atas menunjukkan bahwa,  masih banyak para pengajar Al-Qur’an saat ini yang dalam kondisi tidak layak sebagai seseorang yang mengajarkan ilmu agama.  Hingga harus rela menerima pekerjaan apapun demi mencukupi kebutuhan hidupnya.

Ustadz Lulu Mihram salah satu dai di Pelosok Lombok

Da’i  di Pelosok

Ustadz Lalu Mihram Beliau adalah seorang Da’i yang mengajar di TPQ Musholla Baitul Iffah yang telah di rintisnya. lokasinya terletak di pelosok dusun Kapal,  desa Selong Belanak,  Lombok Tengah, NTB.  Ketika ingin menuju kesana, memerlukan waktu yang tidak sebentar karena harus melewati jalan yang terjal dan berliku. Sedangkan jarak Perjalanan 60 km ke arah selatan dari pusat kota Mataram. Selain mengajar para santri, beliau juga adalah seorang Imam di musholla tersebut.

Baca Juga Artikel Pembangunan Musholla Baitul Iffah di Lombok Telah Selesai

Dengan Bekal pendidikan S1 agama Islam yang di sandang,  di tambah kegigihan yang di lakukannya.  Beliau berhasil mendidik para santri dalam belajar Al Quran.  Dikarenakan keberadaan tempat beliau mengajar ada daerah pelosok, Sehingga para santri disana tidak di kenai biaya untuk belajar. Sedangkan Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, maka ia rela bekerja menjadi buruh bangunan.

Ustadz Lulu Mihram Bersama para santri TPQ

Tantangan dakwah yang beliau hadapai saat ini, yaitu posisi desa Selong Belanak yang berada di pesisir pantai Lombok yang merupakan tempat wisata di wilayah tersebut. Sehingga banyak wisatawan yang datang membawa dampak negatif terhadap kehidupan anak-anak dan pemuda setempat, seperti pengaruh gaya berpakaian mereka, pergaulan bebas, hingga miras dan narkoba. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran bagi beliau dalam upayanya menciptakan generasi yang Islami di sana.

Cerita mengenai ustadz Lalu Mihram di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak para Da’i yang memiliki nasib serupa dengan beliau. Maka selayaknyalah orang-orang seperti beliau mendapat dukungan dan bantuan penuh dari kaum muslimin yang memiliki kemampuan dan kelebihan rizki.

Tinggalkan Balasan