Info Zakat

Info Zakat
Info Zakat

Alhamdulillah dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir perkembangan dakwah Islam cukup menggembirakan di tanah air kita Indonesia. Kesadaran kaum muslimin kelas menengah ke atas agama mereka berangsur-angsur semakin meningkat. Termasuk di dalamnya adalah kesadaran dalam menunaikan zakat. Namun kesadaran berzakat yang cukup bagus ini tidak diimbangi dengan Info zakat yang baik. Ketidak adaan atau kelangkaan info zakat dikalangan kaum muslimin kelas menengah ke atas ini bisa mengakibatkan kesadaran tersebut kurang bisa terwujud, atau kalaupun terwujud akan ada banyak kesalahan dalam menunaikannya. Untuk itu Rumad Da’i Nusantara kali ini memberikan tulisan tentang info zakat agar kebutuhan akan info zakat bisa dapat tercukupi. Berikut adalah ulasan tentang info zakat yang bisa kami berikan.

Pengertian Zakat. Kata zakat adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab. Pada bahasa Indonesia kata Zakat memiliki arti yang sama dengan arti yang dimaksud oleh Syariat Islam. Pada awal sebelum Islam kata zakat menurut bahasa Arab, berarti suci, bertambah, berkembang, berkah, dan terpuji. Setelah kedatangan Islam. Kata Zakat memiliki pengertian yang khusus, karena Rasulullah saw memberikan makna zakat dengan menjelaskan dan mencontohkan apa yang dimaksud dengan zakat. Oleh karena itu munculah makna Zakat yang baru, yakni makna Zakat secara Syariat Islam. Pengertian Zakat dalam istilah syariat adalah :

“Suatu bentuk ibadah kepada Allah SWT dengan mengeluarkan sebagian hartanya dan hukumnya wajib untuk dikeluarkan sesuai aturannya dan diberikan kepada golongan-golongan tertentu yang berhak menerimanya.”

Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103 yang artinya:

“Ambillah dari harta mereka sedekah (zakat) untuk membersihkan mereka dan menghapuskan kesalahan mereka”.

Dan sebagaimana firman Allah dalam Q.S. An-Nisa ayat 77 yang artinya:

”Laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat ”.

Dengan melaksanakan zakat, berarti kita telah membersihkan harta yang kita miliki. Zakat dilakukan setahun sekali, diutamakan pada bulan Ramadhan pada zakat Maal dan wajib pada bulan Ramadhan untuk Zakat Fitrah. Dengan mengeluarkan zakat, bukan berarti harta yang dimiliki akan habis, tentu tidak. Zakat itu artinya mensucikan, membersihkan, menambah. Jadi, sebagian harta yang wajib dikeluarkan itu, walaupun terlihat berkurang akan tetapi pada dasarnya akan bertambah jumlah & keberkahannya, serta akan mensucikan dan membersihkan diri dari segala dosa.

Zakat adalah termasuk dalam rukun Islam yang ketiga. Artinya zakat adalah termasuk dari kewajiban-kewajiban yang paling utama dalam Islam. Mengabaikannya bisa dianggap melakukan pelanggaran berat. Amirul mukminin Sayidina Abu Bakar As Shidiq ra sampai memerangi kaum yang tidak mau membayar zakat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan zakat dalam Islam.

Zakat diambil dengan cara tertentu dan disalurkan juga dengan cara-cara yang telah ditentukan oleh syariat. Zakat hanya boleh diberikan kepada 8 Golongan saja, selain dari golongan ini tidak boleh menerima Zakat. Adapun ke 8 golongan tersebut adalah:

8 GOLONGAN ASNAF YANG MENERIMA ZAKAT

Allah swt telah menetapkan 8 golongan yang boleh menerima zakat dalam firmanNya di surah at Taubah: 60 yang artinya:

“Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanya untuk orang-orang fakir, dan orang-orang miskin, dan amil-amil, dan muallaf yang dijinakkan hati-hati mereka, dan hamba-hamba sahaya (budak) yang hendak memerdekakan diri, dan orang-orang berhutang (Ghorimin), dan untuk dibelanjakan pada jalan Allah (Sabilillah), dan orang-orang musafir (yang kehabisan bekal) dalam perjalanan”.

Jadi dari Firman Allah di atas dapat diketahui beberapa golongan yang berhak mendapatkan zakat, adapun 8 golongan (Asnaf) tersebut adalah sbb:

  1. Fakir (al Fuqara) – adalah orang yang tidak memiliki penghasilan yang mencukupi untuk dirinya dan keperluannya. Tidak mampu mencukupi nafkahnya seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Contohnya ia memerlukan Rp150.000 sehari, tetapi ia hanya mampu Rp 30.000 saja.
  2. Miskin (al-Masakin) – mempunyai penghasilan untuk memenuhi keperluan hidupnya akan tetapi tidak mencukupi sepenuhnya seperti ia memerlukan Rp 7 Juta sebulan tetapi hanya memperoleh Rpp 3 Juta sebulan.
  3. Amil – orang yang diangkat Oleh Amirul Mukmini (baca: Khalifah, Bukan Presiden, Raja, Perdana Menteri, dll) untuk memungut zakat.
  4. Muallaf – seseorang yang baru memeluk agama Islam.
  5. Riqab – budak atau hamba sahaya yang tidak merdeka.
  6. Gharimin – orang muslim yang memiliki hutang yang tidak mempunyai sumber untuk menjelaskan hutang yang diharuskan oleh syarak pada perkara asasi untuk diri dan tanggungjawab yang wajib ke atasnya.
  7. Fisabilillah – orang yang berjuang, berusaha dan melakukan aktivitas untuk menegakkan dan meninggikan agama Allah.
  8. Ibnus Sabil – musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan.

 

MACAM-MACAM ZAKAT DALAM ISLAM

  1. Zakat Fitrah

Jenis zakat dalam Islam yang pertama adalah zakat fitrah. Menurut pengertian syariat, Zakat Fitrah adalah zakat yang diwajibkan atas diri setiap individu laki-laki atau perempuan  muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.

Adapun ketentuan dari pembayaran zakat fitrah adalah sebagai berikut :

  1. Pembayaran zakat fitrah ditandai dengan tenggelamnya matahari di akhir bulan Romadhon dan selambat-lambatnya diserang diserahkan sebelum ditunaikan Salat Id.
  2. Boleh didahulukan pembayaran zakat fitrah di awal atau selama bulan Romadhon.
  3. Wajib diberikan kepada 8 asnaf saja.
  4. Per jiwa 2,5 kilogram beras atau makanan pokok.
  5. Bila ditunaikan dengan uang, maka harus dengan akad perwakilan kepada orang (panitia) yang menerima uang untuk dibelikan beras atau bahan pokok seperti yang diamanahkan oleh orang yang berzakat.

 

  1. Zakat Mal

Zakat Mal (bahasa Arab: الزكاة المال; transliterasi: zakah māl) adalah zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki oleh individu dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara syarak.

Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat Maal adalah sebagai berikut:

  1. Islam
  2. Merdeka
  3. Berakal dan baligh
  4. Memiliki nishab

Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syar’i (agama) untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya, jika telah sampai ukuran tersebut. Orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah,

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (QS. Al Baqarah: 219)

Makna al afwu (dalam ayat tersebut-red), adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang.

Syarat-Syarat Harta Yang Harus Dikeluarkan Zakatnya

Harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Milik Penuh, yakni harta tersebut merupakan milik penuh individu yang akan mengeluarkan zakat.
  2. Berkembang, yakni harta tersebut memiliki potensi untuk berkembang bila diusahakan.
  3. Mencapai nisab, yakni harta tersebut telah mencapai ukuran/jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan, harta yang tidak mencapai nishab tidak wajib dizakatkan dan dianjurkan untuk berinfak atau bersedekah.
  4. Lebih dari Kebutuhan Pokok, orang yang berzakat hendaklah kebutuhan minimal/pokok untuk hidupnya terpenuhi terlebih dahulu
  5. Bebas dari Hutang, bila individu memiliki hutang yang bila dikonversikan ke harta yang dizakatkan mengakibatkan tidak terpenuhinya nisab, dan akan dibayar pada waktu yang sama maka harta tersebut bebas dari kewajiban zakat.
  6. Berlalu Satu Tahun (Haul), kepemilikan harta tersebut telah mencapai satu tahun khusus untuk ternak, harta simpanan dan harta perniagaan. Hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak memiliki syarat haul.

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya. Misalnya, jika seorang muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.

 

NISHAB, UKURAN DAN CARA MENGELUARKAN ZAKATNYA

  1. Nishab emas

Nishab emas sebanyak 20 dinar. Dinar yang dimaksud adalah dinar Islam.

1 dinar = 4,25 gr emas

Jadi, 20 dinar = 85gr emas murni.

 

Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatupun – yaitu dalam emas – sampai memiliki 20 dinar. Jika telah memiliki 20 dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah satu haul.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi)

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat.

Contoh:

Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka, jika telah sampai haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

 

  1. Nishab perak

Nishab perak adalah 200 dirham. Setara dengan 595 gr, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

 

  1. Nishab binatang ternak

Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…” (HR. Bukhari)

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:

 

  1. Onta

Nishab onta adalah 5 ekor.

Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak onta, maka nishab onta tidak kami jabarkan secara rinci -red.

 

  1. Sapi

Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.

 

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:

 

Jumlah Sapi Jumlah yang dikeluarkan
30-39 ekor 1 ekor tabi’ atau tabi’ah
40-59 ekor 1 ekor musinah
60 ekor 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah
70 ekor 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah
80 ekor 2 ekor musinnah
90 ekor 3 ekor tabi’
100 ekor 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah

Keterangan:

  1. Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.
  2. Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun.
  3. Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah.

 

  1. Kambing

Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah Kambing

 

Jumlah yang dikeluarkan

 

40 ekor 1 ekor kambing
120 ekor 2 ekor kambing
201 – 300 ekor 3 ekor kambing
> 300 ekor setiap 100, 1 ekor kambing

 

  1. Nishab hasil pertanian

Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyari’atkan dalam Islam dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-An’am: 141)

Adapun nishabnya ialah 5 wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 wasaq.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Satu wasaq setara dengan 60 sha’ (menurut kesepakatan ulama, silakan lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364). Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian menurut takaaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (atau menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” (HR. Muslim 2/673)

Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) adalah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg

 

  1. Nishab barang dagangan

Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas. Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan 3 syarat lainnya:

  • Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya.
  • Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
  • Nilainya telah sampai nishab.

Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong hutang.

Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki hutang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:

Modal – Hutang:

Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000

Jadi jumlah harta zakat adalah:  Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000

Zakat yang harus dibayarkan: Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000

 

  1. Nishab harta karun

Harta karun yang ditemukan, wajib dizakati secara langsung tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” (HR. Muttafaqun alaihi)

Cara Menghitung Nishab

Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Imam Nawawi berkata, “Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak- keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut.” (Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468). Inilah pendapat yang rajih (paling kuat -ed) insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada bulan Muharram 1423 H, lalu bulan Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada bulan Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari bulan Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu dikeluarkannya zakatnya. Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan